
Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Kepulauan Meranti, Hengki mengakui potensi masuknya barang-barang ilegal dari luar negeri ke Meranti cukup besar.
Hal itu disebabkan letak geografis Meranti yang berdekatan dengan Malaysia dan banyaknya pelabuhan rakyat.
“Geografis Meranti berpulau-pulau dan banyak sekali pelabuhan rakyat yang tidak terpantau. Hal itu menjadikan Meranti sangat rawan terjadinya penyelundupan,” ujar Hengki, Senin (11/12/2017).
Namun, besarnya potensi tersebut tidak diimbangi oleh jumlah personel dan armada yang dimiliki oleh KPPBC Kepulauan Meranti.
Hengki mengungkapkan, saat ini KPPBC Kepulauan Meranti hanya memiliki 8 personel saja.
“Idealnya KPPBC memiliki 35 personel untuk mengawasi aktivitas di sejumlah pelabuhan,” ujar Hengki.
Sebab itu pengawasan KPPBC hanya fokus di pelabuhan yang memiliki Tempat Penimbunan Sementara (TPS) di Pelabuhan Cabang Pelindo I Selatpanjang.
Selain minim personel, untuk mengelar patroli di perairan, KPPBC juga harus mengeluarkan biaya besar.
“Kami punya 1 kapal besar dan 2Untuk unit speedboat. Untuk mengoperasikan armada itu, kita membutuhan biaya Rp6 juta,” ujar Hengki.
Sebab itu kata Hengki, patroli dilakukan jika pihaknya mendapatkan informasi yang benar-benar kuat.
“Kalau informasinya belum kuat kami tidak berani turun, biayanya mahal,” ujar Hengki.
Sumber : tribunnews.com
http://www.pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar