Catatan Kaki atas Kenaikan Kemudahan Bisnis dan Investasi

Catatan Kaki atas Kenaikan Kemudahan Bisnis dan Investasi

Keberhasilan Indonesia menaikkan peringkat kemudahan berbisnis, atau ease of doing business (EODB), dari peringkat ke-106 pada 2016 menjadi ke-72 pada 2018 dan kenaikan peringkat utang dari BBB- menjadi BBB oleh lembaga pemeringkat Fitch Rating minggu lalu patut diacungi dua jempol.

Pasalnya, dengan kenaikan kedua peringkat tersebut berarti ruang untuk menjadikan bisnis dan investasi sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi 2018 makin besar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan kenaikan peringkat tersebut merupakan salah satu konfirmasi mengenai pengelolaan APBN yang baik.

Pernyataan senada juga diungkapkan Deputi Gubernur Bank Indonesia Rosmaya Hadi, bahwa kenaikan tersebut menandakan pemerintah berhasil membuat kebijakan moneter yang mampu meredam aliran gejolak aliran modal.

Khusus untuk kenaikan peringkat kemudahan berbisnis, Presiden Jokowi kemudian menginginkan peringkat kemudahan berbisnis pada 2019 dapat diupayakan berada pada rangking ke-40. Keinginan Presiden tersebut tentu sah-sah saja.

Hal itu disebabkan berbagai dukungan kebijakan dan program yang disiapkan Presiden Jokowi ke arah capaian posisi kemudahan berbisnis tersebut baik langsung maupun tidak langsung telah ada.

Misalnya, pembangunan infrastruktur, deregulasi, 16 paket kebijakan ekonomi, program antikemiskinan dan ketimpangan pendapatan, peningkatan kualitas SDM, dan sebagainya dan seterusnya.

Hal yang sama juga dengan naiknya peringkat utang menjadi BBB. Kenaikan peringkat utang itu dapat menstimulasi masuknya modal asing ke Indonesia. Hal itu disebabkan dengan meningkatnya peringkat utang Indonesia, Indonesia menjadi semakin layak investasi.

Apalagi, predikat layak investasi itu tidak hanya diberikan lembaga pemeringkat Fitch, tetapi juga oleh Moody’s Investors Service (per 9 Februari 2017) dan Standard and Poor’s (per 19 Mei 2017).

Perlu Kehati-hatian

Namun, kehati-hatian untuk meningkatkan kemudahan berbisnis dan investasi mutlak diperlukan. Untuk kenaikan peringkat kemudahan berbisnis, paling tidak terdapat dua catatan kaki yang harus didalami dan dikalkulasi dengan benar.

Pertama, menyangkut substansi indeks kemudahan berbisnis itu sendiri.

Kedua, menyangkut implikasi dari indeks kemudahan berbisnis bagi pembangunan nasional berkelanjutan.

Catatan kaki untuk perluasan investasi meliputi efek terhadap APBN 2018 di satu pihak dan kemampuan menyerap lapangan kerja di pihak lain. Menyangkut substansi indeks kemudahan berbisnis, indeks itu memilik 10 subindeks.

Kesepuluh subindeks tersebut meliputi subindeks memulai usaha, perizinan pendirian bangunan, penyambungan listrik, pendaftaran properti, akses perkreditan, perlindungan terhadap investor minoritas, pembayaran pajak, perdagangan lintas negara, penegakan kontrak, dan penyelesaian perkara kepailitan.

Aspek yang diukur dari tiap subindeks secara umum fokus pada aspek prosedur, waktu dan biaya. Untuk subindeks memulai usaha, misalnya, yang diukur ialah apakah prosedur, biaya dan waktu memulai usaha sederhana/mudah, murah, dan cepat.

Hal yang sama juga diukur untuk subindeks perizinan pendirian bangunan, penyambungan listrik, pendaftaran properti, penegakan kontrak bisnis dan perdagangan lintas negara. Sisanya, seperti akses perkreditan, mengukur antara lain kekuatan aspek legal pinjaman dan kedalaman informasi pinjaman.

Sumber : metrotvnews.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: