Jangan Menakuti-nakuti Wajib Pajak

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam dialog dengan para pelaku usaha, ekonom, dan pemimpin redaksi media massa di Kantor Depkeu, Jakarta, Senin (8/1). Hadir pada kesempatan itu, antara lain, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani, Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Franciscus Welirang, bankir senior Djohan Emir Setijoso, dan konsultan pajak Yustinus Prastowo. Foto: Investor Daily/PRIMUS DORIMULU

Meski target penerimaan perpajakan tahun 2018 mencapai Rp 1.618 triliun, naik 20% dari realisasi penerimaan 2017, fiskus atau aparat pajak tidak diperkenankan mengejar-ngejar dan menakut-nakuti wajib pajak (WP). Setiap WP harus membayar pajak sesuai kewajibannya. Namun, fiskus tidak dibenarkan membuat WP tidak nyaman dalam upaya memenuhi kewajibannya.

“Saya akan melarang petugas pajak mengada-ada. Kami akan rapikan cara kerja aparat pajak,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam dialog dengan para pelaku usaha, ekonom, dan pemimpin redaksi media massa di Kantor Depkeu, Jakarta, Senin (8/1).

Hadir pada kesempatan itu, antara lain, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani, Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Franciscus Welirang, bankir senior Djohan Emir Setijoso, dan konsultan pajak Yustinus Prastowo.

Realisasi penerimaan perpajakan sementara tahun 2017 mencapai sekitar Rp 1.343,4 triliun, naik 4,5% dibanding realisasi perpajakan tahun anggaran 2016.

Realisasi perpajakan tahun 2017 sebesar 91,2% dari target, sebesar Rp 1.472,7 triliun. Pada tahun 2016, realisasi pajak hanya naik 3,6% dari realisasi tahun 2015 dan penerimaan pajak tahun 2015 cuma naik 8,5% dari realisasi penerimaan pajak tahun 2014.

Lonjakan target pajak 2018 hingga 20% dari realisasi penerimaan pajak tahun 2017, kata Welirang, cukup ambisius.

Target pajak tahun 2018 yang cukup fantastis berkaitan dengan tax ratio yang rendah. Menkeu mengatakan, tax ratio berdasarkan realisasi penerimaan perpajakan tahun 2017 sebesar 10,8%. Sedang sesuai target penerimaan pajak tahun 2018, tax ratio Indonesia 11,6%. Angka itu jauh di bawah tax ratio sejumlah negara tentangga. Tax ratio adalah perbandingan penerimaan pajak dengan produk domestik bruto (PDB).

Dengan laju pertumbuhan ekonomi 2017 sekitar 5,05% dan target pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,4%, kata Welirang, mestinya target penerimaan pajak sekitar 10% atau dua kali laju pertumbuhan ekonomi.

“Mudah-mudahan tidak ada tindakan aparat pajak yang membuat wajib pajak tidak nyaman,” ungkap Welirang.

Dalam kondisi ekonomi yang masih slow down, target penerimaan pajak mestinya tidak meningkat fantastis. Yustinus Prastowo menyarankan agar target penerimaan pajak ditinjau kembali lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2018. Dari interaksinya dengan para WP, Prastowo menyatakan, masih ada fiskus yang tidak memberikan kepastian kepada para WP.

Merespons masukan para pengusaha dan pengamat, Menkeu menegaskan, pihaknya akan merapikan cara kerja fiskus. Masyarakat dan dunia usaha diimbau untuk lebih sadar membayar pajak. Sedang pihaknya terus memperbaiki peraturan perpajakan, meningkatkan kualitas fiskus, dan siap memberikan insentif perpajakan kepada dunia usaha berupa tax holiday dan tax allowance. 

Sumber : beritasatu.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: