Keadilan dan Pajak Pedagang di Medsos

OUR new constitution is now es­­tablished, and has an ap­pear­ance that promises permanency; but in this world nothing can be said to be cer­tain, except death and taxes.” – Ben­jamin Franklin (1789)

Sebuah wacana kebijakan di sek­­tor perpajakan Ta­nah Air mengemuka be­be­­ra­­­pa wak­­tu belakangan. K­e­men­­te­ri­an Keuangan (Ke­men­keu) berenca­na mengenakan pa­­jak ke­pa­­da para pedagang yang menj­a­ja­­kan dagangan me­­r­e­ka di me­dia so­sial (med­sos).

Atur­a­n itu se­­dang di­go­dok dan akan ter­tuang da­lam be­n­tuk per­aturan men­­te­ri ke­uang­an (PMK). Menurut penjelasan dari Di­rek­torat Jenderal Pajak (DJP) Ke­menkeu, para pedagang di med­sos tetap harus melaksana­kan kewajiban perpajakan de­ngan self assessment system.

Sis­tem ini mengatur bahwa wewe­nang, ke­percayaan, tanggung ja­w­ab untuk wajib pajak meng­hi­tung, mem­perhitungkan, mem­bayar, dan melaporkan sen­d­iri be­sar­an pajak yang ha­rus di­ba­yar­kan se­tiap tahun sesuai de­ngan ke­ten­tuan per­undang-undangan yang ber­la­ku.

Pe­la­por­an hasil ber­dagang di med­sos ha­rus di­la­por­kan ke da­lam surat pemb­­e­ri­ta­huan (SPT) sebagai­ma­na wa­jib pajak lain. Ini se­te­lah mereka ter­daftar se­ba­gai wajib pajak dan memiliki no­mor pokok w­a­jib pajak (NPWP).

Apabila dirunut, rencana Ke­menkeu tidak bisa tidak me­mi­liki kaitan dengan rencana pe­ngenaan pajak untuk mar­ket­place. Asosiasi E-Commerce In­do­ne­sia (idEA), selaku wadah ko­munikasi antarpelaku indu­s­tri e-commerce Indonesia, se­la­lu menolak rencana tersebut.

Pasalnya, rencana pajak untuk mar­ketplace tidak mencakup per­dagangan di medsos. Jika PMK terkait pe­nge­na­an pa­­jak kepada para pedagang di med­­sos diterbitkan, ba­gai­ma­na pe­­merintah dan pe­da­gang yang didominasi pelaku usa­ha mikro, ke­­cil, dan m­e­ne­ngah (UMKM) bersikap?

Pajak dan Fungsi

Berdasarkan UU No­mor 28 Ta­­hun 2007 ten­tang Ke­ten­tu­an Umum Perpajak­an (KUP), pajak di­­de­fi­ni­si­kan se­ba­gai kon­tri­bu­­­si wajib k­e­pa­da ne­gara yang ter­utang oleh orang pri­ba­di atau ba­dan yang bersifat memaksa ber­da­sar­kan undang-undang, de­­ngan ti­dak men­da­patkan imbal­­an se­ca­ra lang­sung dan di­gu­­na­kan untuk ke­per­lu­an negara ba­gi sebesar-be­sar­­nya ke­mak­mur­­an rakyat.

Pajak memiliki sejumlah ciri. S­a­lah satunya adalah pajak me­ru­pakan kontribusi wajib warga ne­gara. Namun, ketentuan ini ha­nya berlaku untuk warga ne­ga­ra yang sudah memenuhi sya­r­at subjektif dan objektif.

Mereka antara lain warga ne­ga­ra yang memiliki penghasilan ti­­dak kena pajak (PTKP) lebih da­ri Rp2.050.000 per bulan. Kar­ya­wan/pegawai, baik kar­ya­wan swas­ta maupun pegawai ­pe­me­rin­tah, dengan total peng­ha­silan le­bih dari Rp2 juta maka wa­jib mem­bayar pajak. Pun wi­ra­­usaha, ma­ka setiap peng­ha­sil­an akan di­ke­nakan pajak se­be­sar 1% dari to­tal penghasilan ko­tor/bruto (PP Nomor 46 Ta­hun 2013).

Namun, yang patut diingat oleh pemerintah adalah penge­na­­a­n pajak harus menge­de­pan­kan asas keadilan. Jangan sam­pai ada unsur-unsur ke­tidak­adil­an di da­lamnya. Berkaca da­ri ren­cana pe­ngenaan pajak ­kepada pa­ra pe­da­gang di medsos, p­e­nu­lis me­ni­lai pemerintah ingin meng­ed­e­pan­kan asas ke­adil­an. De­ngan de­mi­kian, fung­si pajak un­tu­k melak­sanakan atau meng­­atur kebijakan ne­ga­­ra da­lam per­eko­no­mi­­an terpenuhi.

Pengenaan pajak kepada pa­­ra pe­dagang di medsos juga te­­pat. Ini karena mayoritas pe­da­­gang ber­jualan melalui me­dium itu. Di­tambah tren ­peningkatan per­dag­angan online  yang terus me­ning­kat me­nu­rut berbagai sur­vei. Secara ka­sat­mata pun, kita da­pat de­ngan mudah me­ne­mu­k­an akti­vi­tas jual beli di med­s­os se­perti Facebook, Instagram.

Hal ini pun terkonfirmasi da­lam survei yang dilak­sa­na­kan idEA, beberapa waktu lalu. Me­reka mencatat sekitar 59% pe­d­agang ada di medsos. Semen­tara yang melalui mar­ket­place  seperti Tokopedia, Bu­ka­lapak, maupun Shopee, hanya se­ki­tar 16%.

Berkaca dari kenyataan ter­se­­but, rencana pemerintah me­­nge­na­kan pajak kepada pe­da­­gang di med­sos tak perlu di­ri­­sau­kan. Na­mun, ada se­jum­lah ca­tatan yang pa­tut dicer­mati bersama.

Penerapan di Lapangan

Salah satu pekerjaan ru­mah (PR) besar yang harus di­per­­­ha­ti­­kan dalam penerapan k­­eb­i­jak­an per­­pajakan adalah ke­­­pa­tuh­an wa­jib pajak  mau­pun non-wajib pa­j­ak yang ren­­dah. Su­dah men­ja­di ra­ha­sia umum ma­syarakat di se­­­l­u­ruh du­­n­ia, ter­ma­suk di In­­do­ne­­sia (ti­­dak ter­ke­cuali para pe­da­gang), ingin menghin­dar dari pajak.

Padahal, se­ba­­gai­mana ku­tip­an pada pem­buka tu­lisan ini, ti­d­ak ada sesuatu yang pas­­ti di du­nia kecuali ke­ma­ti­an dan pa­jak. Namun, rangkaian kasus pe­­nye­le­weng­an pa­jak dengan me­libatkan pe­ga­wai DJP Ke­men­keu seperti ­ka­­sus Gayus ber­tahun-tahun la­lu, membuat kepercayaan pub­­lik memudar.

Meski sejak kasus itu DJP me­­reformasi diri hingga men­ja­­di salah satu institusi ter­pe­r­ca­ya di Tanah Air, masih ada se­b­­a­gi­an masyarakat yang ske­p­tis. Ini tu­gas berat yang harus d­­i­­se­l­e­sai­kan apabila pe­me­rin­tah hendak me­majaki pe­da­gang di medsos.

Kemudian, jika dicermati, pa­jak untuk pedagang di med­sos beririsan dengan ke­ber­ada­an PP Nomor 46 Tahun 2013. Pa­ra wirausaha, termasuk pe­la­ku UMKM, dikenakan pajak se­be­sar satu persen dari total penghasilan kotor/bruto dari se­tiap penghasilan.

Namun, penerapan ke­bi­jak­an ini pun jauh panggang dari api sebab sampai dengan tahun lalu dari sekitar 59 juta pelaku UMKM, yang baru membayar pajak hanya 397.000 pelaku UMKM. Kebijakan tax amnesty  yang diluncurkan pemerintah pun tak membantu banyak. Hal ini tergambar dari jumlah pe­la­ku UMKM yang mengikuti ke­bi­jak­an tersebut.

Mengacu penjelasan DJP, be­berapa karakteristik UMKM di­tunjuk jadi penyebab rendah­nya pe­mu­ngut­an pajak UMKM. Per­tama, ting­kat turnover yang sa­ngat ting­gi. Pelaku UMKM ha­nya ber­tahan dalam jang­ka wak­tu se­saat, tidak da­lam wak­tu lama.

Ke­dua, pe­la­ku UMKM ke­rap meng­abai­kan as­pek per­pa­jakan lan­ta­ran fo­kus mem­ba­ngun usa­ha. Ke­tiga, per­sepsi bah­wa pa­­jak me­­nam­bah biaya usaha.

Mengatasi semua per­ma­sa­­­lah­­an yang ada, pe­me­rin­tah per­­­lu mengevaluasi pe­mu­ngu­t­an pajak UMKM terlebih da­­hu­lu se­belum memajaki pe­da­gang di med­sos. Dari sana, bis­a d­i­pe­tik pe­lajaran agar kega­gal­an ter­da­­hulu tidak terulang, se­bab pe­da­­gang di medsos yang dido­mi­na­si pe­laku UMKM su­dah ma­suk da­lam kategori wajib pajak.

Dari sisi pelaku UMKM, pe­nge­­naan pajak tentu akan me­mi­­­liki banyak manfaat. Ambil con­­toh dari keberadaan NPWP. NPWP dapat berguna apa­bila pe­la­ku UMKM hendak meng­­aju­kan pem­biayaan ke per­­bank­an. Pem­bia­yaan se­ba­gai­mana di­ketahui ber­kaitan de­ngan pe­ning­katan kapasitas UMKM itu sendiri.

Terlepas dari segala pro dan kon­­tra, semua pihak tentu me­nung­­gu kelahiran PMK terkait pe­­ngenaan pajak kepada para pe­da­­gang di medsos. Semua de­ngan harapan aspek keadilan ter­pe­nuhi. Bukan hanya dari sisi pe­me­rintah, melainkan ju­ga para pe­dagang yang menjadi ba­gian dari masyarakat Tanah Air.

Sumber : sindonews.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: