Pelemahan Rupiah Bisa Dongkrak Nilau Utang

Total utang luar negeri (ULN) Indonesia Januari 2018 mencapai US$ 357,5 miliar.

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencatat total utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2018 mencapai sebesar US$ 357,5 miliar. Jumlah itu naik 10,3% dibanding periode sama 2017 yang sebesar US$ 324,25 miliar,. Sedangkan dibandingkan Desember 2017, jumlah ULN Indonesia pada Januari 2018 naik 1,31%.

Dari total ULN tersebut, utang pemerintah dan bank sentral mencapai US$ 183,4 miliar. Sedangkan utang swasta sebesar US$ 174,2 miliar. Menurut BI, kenaikan ULN sejalan dengan kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur dan kegiatan produktif lainnya.

ULN pemerintah pada akhir Januari 2018 tercatat US$ 180,2 miliar terdiri dari SBN (SUN dan SBSN/Sukuk Negara) yang dimiliki oleh asing/non residen sebesar US$ 124,5 miliar dan pinjaman kreditur asing US$ 55,7 miliar.

Direktur Departemen Statistik BI Tutuk S Cahyono mengatakan, peningkatan utang luar negeri tidak perlu dikhawatirkan. Selain untuk kebutuhan pembiayaan pembangunan infrastruktur dan kegiatan produktif lain, sebagian besar ULN merupakan jangka panjang (tenor lebih dari setahun).

Total utang jangka panjang mencangkup 85,9% atau setara dengan US$ 307,2 miliar. “Utang jangka pendek sekitar US$ 50,3 miliar atau 14,1%. Dari waktu ke waktu, yang terus meningkat itu ULN jangka panjang, agar tidak membebani keuangan negara,” jelas Tutuk, Kamis (15/3).

ULN swasta juga didominasi tenor jangka panjang dengan nilai US$ 127,3 miliar. ULN swasta jangka pendek hanya US$ 46,9 miliar. “Sebagian utang ada yang refinancing tetapi banyak juga yang untuk menambah modal dan investasi,” jelas Tutuk.

Pelemahan rupiah menaikkan nilai utang mata uang asing.

BI mencatat ULN swasta modal kerja US$ 56,32 miliar, bertambah US$ 582 juta di banding Desember 2017. Pada periode sama, ULN untuk investasi naik US$ 357 juta menjadi US$ 53,82 miliar dan refinancing bertambah US$ 166 juta jadi US$ 21,08 miliar.

Menurut sektor ekonomi, posisi ULN swasta terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengelolaan, pertambangan serta pengadaan listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 72,2%.

“Industri pengolahan dipakai untuk industri manufaktur, pertambangan, pengadaan listrik, gas dan air bersih. Ini empat sektor ini yang memakan porsi yang paling besar,” ujar Tutuk.

Masih Sehat.

Dengan posisi utang itu, Kementerian Keuangan mengklaim ULN pemerintah masih dalam level sehat. Apalagi biaya utang kian rendah seiring kepercayaan investor terhadap Indonesia dan kenaikan peringkat kredit.

Japan Rating Credit (JRC) Agency semisal, baru saja mengerek Sovereign Credit Rating (SCR) Republik Indonesia dari BBB-/Outlook Positif menjadi BBB/Outlook Stabil 8 Februari 2018 lalu.

Selain itu rasio ulang terhadap PDB akhir Januari hanya 29,1%. “Masih di bawah batas 60% yang ditetapkab di UU relatif kecil dibandingkan negara tetangga, Vietnam 63,4%, Thailand 41,8%, Malaysia 52,7%,” kata Kemkeu.

Consultant Asian Development Bank (ADB) Institute Eric Sugandi mengingatkan, pemerintah dan swasta harus mewaspadai pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini. Pelemahan rupiah bisa menaikkan nilai utang dalam valuta asing jika dikonversi ke rupiah. Ini akan membuat kewajiban pembayaran cicilan utang pun naik. “Usahakan agar akselerasi utang tak terlalu cepat,” saran Eric. Kamis, (15/3) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate BI tercatat Rp 13.748 per dollar AS.

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: