Lagi, Ekspor Sawit ke Eropa Terancam

7af20-produk-olahan-kelapa-sawit

JAKARTA. Pasar ekspor minyak kelapa sawit atau crude plam oil (CPO) Indonesia ke Uni Eropa memang menjanjikan. Apalagi, selama ini, negara-negara di benua biru tersebut merupakan konsumen minyak sawit Indonesia terbesar kedua setelah India.

Berdasarkan data tahun 2015, kebutuhan minyak sawit Uni Eropa sebesar 6,3 juta ton, sekitar 4,23 juta ton atau 65,15% berasal dari Indonesia. Namun, besarnya prospek bisnis ini sebanding dengan tantangan yang mesti di hadapi eksportir minyak sawit.

berulang kali minyak sawit menuai kampanye negatif seperti isu ramah lingkungan dan kesehatan dengan tujuan membatasi peredarannya di Uni Eropa. Maklum, selama ini, Uni Eropa adalah produsen minyak nabati lain, seperti minyak biji bunga matahari, kanola, dan kedelai. namun, harga ketiga minyak nabati ini jauh di atas minyak sawit.

memasuki tahun 2017, kampanye negatif terhadap sawit tak juga berhenti. yang terbaru adalah aksi boikot sejumlah negara Uni Eropa terhadap Nutella, produk selai milik Ferrero, perusahaan makanan asal italia. hal ini lantaran Ferrero masih menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku utama.

kisruh ini merupakan buntut dari pernyataan Otoritas Keamanan Makanan Eropa (EFSA) pada mei 2016 lalu bahwa minyak kelapa sawit bersifat karsinogenik dibandingkan minyak lainnya saat dipanaskan pada suhu di atas 200 derajat celcius. Artinya, penggunaan minyak kelapa sawit dalam pengolahan mkaanan bisa memicu kanker.

namun, EFSA tidak melarang konsumen untuk mengkonsumsinya dan merekomendasikan studi lanjut untuk menakar tingkat risiko karsinogenik.

Direktur Eksekutif gabungan industri minyak nabati indonesia (GIMNI), sehat sinaga mengatakan, kampanye anti sawit di Uni Eropa bisa terus terjadi karena sebagian besar masyarakat disana telah termakan isu kesehatan tentang produk makanan menggunakan sawit. “kondisi sekarang ini tidak mudah bagi para pelaku industri kelapa sawit,” ungkapnya kepada KONTAN, selasa (17/1)

Produk non pangan

sehat mengaku khawatir bahwa semakin masifnya kampanye negatif terhadap sawit bisa menurunkan konsumsi minyak sawit yang otomatis berdampak pada ekspor impor. pada tahun 2016 lalu, ekspor minyak sawit Uni Eropa hanya 3,3 juta ton atau turun drastis dari tahun 2015.

sehat menilai, ekspor minyak sawit ke Uni Eropa sebagai bahan baku makanan seperti tidak lagi relevan dengan banyaknya isu negatif. makanya, para eksportir sawit akan mendorong ekspor minyak sawit dalam bentuk biodisel atau oleochemical untuk industri non pangan.

strategi inilah yang akan di coba GIMNI untuk tetap eksis menembus pasar Uni Eropa yang dikenal sebagai konsumen yang rumit dan kritis.

selain itu, sehat bilang, GIMNI juga akan mencari pasar alternatif apabila pasar Uni Eropa tetap tak bersahabat dengan minyak sawit di tahun ini, yakni dengan menyasar pasar baru di timur tengah dan afrika.

direktur eksekutif gabungan pengusaha kelapa sawit indonesia (Gapki) Fadilah Hasan mengklaim sudah mempelajari kondisi terkini pasar minyak sawit di Uni Eropa. namun, ia membantah soal hasil penelitian yang menyebut minyak sawit menimbulkan potensi kanker.

meski begitu, gapki belum menyusun strategi khusus untuk kampanye negatif yang berkembang saat ini. “kami akan melakukan penelitian tentang hal tersebu. selama belum terbukti benar, produksi minyak sawit ke Uni Eropa tetap jalan seperti biasa, tuturnya.

Penulis : Elisabeth Adventa

Sumber : Kontan, rabu 18 Januari 2017

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: