Kenaikan Biaya Gaya Hidup Ikut Picu Lesunya Ritel

Survei Nielsen mengungkapkan penyebab lesunya daya beli masyarakat terhadap produk ritel, terutama terhadap barang-barang konsumsi kemasan (fast moving consumer good/FMCG). Salah satunya, yakni meningkatnya pengeluaran untuk aktivitas bersantai dan gaya hidup (leisure and lifestyle).

Managing Director Nielsen Indonesia Agus Nurudin menjelaskan, salah satu kenaikan pengeluaran masyarakat yang meningkat signifikan pada tahun ini di seluruh kelompok adalah biaya untuk aktivitas bersantai dan gaya hidup. Kelompok menengah bahkan mencatatkan kenaikan paling tinggi yakni mencapai 34 persen dibanding tahun lalu, disusul kelompok bawah 25 persen, dan kelompok atas 24 persen.

“Masyarakat kita kan sangat senang bersosialisasi, maka kebutuhan untuk nongkrong di kafe, jalan-jalan, itu meningkat,” ujar Agus kepada CNNIndonesia.com, Jumat (4/11).

Hal ini lah yang membuat industri food and beverage (makanan dan minuman), menurut catatan Nielsen tumbuh mencapai 34 persen tahun ini. Secara rinci, bisnis makanan cepat saji tercatat tumbuh 28 persen, konter makanan tumbuh 41 persen, dan restoran tumbuh 34 persen.

Namun, Agus menyebut kenaikan pengeluaran tersebut bukanlah yang paling tinggi. Kenaikan pengeluaran paling tinggi pada seluruh kelompok masyarakat, menurut Agus, adalah untuk biaya pendidikan yang mencapai di atas 50 persen.

Pada masyarakat kelas bawah terjadi kenaikan sebesar 59 persen dibanding tahun lalu, kelas menengah naik 57 persen, dan kelas atas naik 62 persen.

“Biaya pendidikan itu kalau sekolah negeri memang gratis kalau negeri, tapi swasta? Tapi ini (kenaikan biaya pendidikan) lebih banyak di luar sekolah,” ungkapnya.

Agus menjelaskan, saat ini tak hanya masyarakat kelas menengah dan atas yang memberikan les atau kursus kepada anaknya. Masyarakat kelas bawah pun melakukan hal serupa.

“Sekarang kan semua (kelompok masyarakat) memberikan les ke anaknya. Tapi mungkin kalau yang kelas atas itu lesnya tidak hanya pelajaran tapi juga musik, balet, dan lainnya,” terang Agus.

Selain biaya pendidikan, menurut Agus, kenaikan pengeluaran masyarakat yang signifikan juga terjadi pada biaya makanan. Namun, produk makanan yang mengalami kenaikan, menurut Agus, adalah makanan-makanan segar dan merupakan kebutuhan dasar.

“Ini fresh food sama basic need, seperti sayur, ikan, daging, dan lainnya,” ungkap dia.

Di sisi lain, belanja masyarakat pada produk ritel, khususnya barang konsumsi kemasan mengalami perlambatan.

Menurut survei Nielsen, industri barang konsumsi kemasan hingga September (year to date) hanya tumbuh 2,7 persen. Padahal rata-rata pertumbuhan industri tersebut mencapai 11 persen dalam lima tahun terakhir.

“Masyarakat mulai memilah dalam berbelanja,” ungkap dia.

Akibatnya, konsumsi masyarakat pada mie instan, susu, kopi, dan produk makanan lainnya mengalami penurunan. Penjualan mie instan hingga September secara volume tercatat turun 4,4 persen, susu turun 0,2 persen, dan kopi turun 1,5 persen.

Agus menambahkan, pengelompokkan masyarakat yang dilakukan Nielsen dalam survei tersebut tak dilakukan berdasarkan pendapatan, tetapi berdasarkan pengeluaran.

“Pengelompokkan ini kami lakukan dengan beberapa kategori berdasarkan pengeluarannya. Misalnya, apakah mereka minum air kemasan, lalu berapa watt listriknya, kemudian pakai gas yang berapa kg, dan sebagainya,” tambah dia.

Sumber : cnnindonesia.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: