Owner Raksasa Grup Hardys Bicara Blak-blakan Soal Kepailitan Bisnisnya, Gede Hardy: Ini Karma Saya

Grup Hardys Holding milik Gede Hardy yang dinyatakan pailit pada putusan Pengadilan Niaga Surabaya di PN Surabaya per tanggal 9 November 2017 yang lalu.

Kini sang Owner Gede Hardy didampingi Istri berbicara secara gamblang kepada awak media, Rabu (22/11/2017) sore dan difasilitasi oleh Aprindo Bali.
“Kami cenderung menerima ini kalau dalam bahasa Balinya kalau ini memang karma saya dipailitkan. Maka saya terima karma dari 20 tahun saya merintis usaha,” ungkap Gede Hardy.

Pailit ini terjadi karena pihak Grup Hardys Holding tidak dapat memenuhi kewajibannya membayar kepada kreditur yang telah jatuh tempo.

“Kalau kami di bank ada 18 bank telah jatuh tempo. Dan kami telah gagal bayar berdasarkan UU No 37 dari Januari lalu kami sudah dipailitkan,” tuturnya.

Namun saat itu Gede Hardy meminta keringanan perpanjangan jatuh tempo hingga pada akhirnya tidak dapat melakukan pembayaran dan beberapa bank mengajukan pailit terhadap Grup Hardys Holding.

Dan pihaknya mengajukan PKPU perdamaian namun para kreditur saat voting saat itu tidak menyetujuinya akhirnya dinyatakan pailit.

Ia menyampaikan aset dari Grup Hardys Holding saat dihitung tim kurator tercatat mencapai 4,1 Triliun dan hutang 2,3 Triliun. Kapan kurator mengeksekusi?

Gede Hardy menjawab hak untuk menjual sendiri dari Bank itu 60 hari sejak dinyatakan pailit. “Jadi Bank punya hak menjual tanpa melalui tim kurator sampai tanggal 9 Januari 2018,” ucapnya.

Setelah itu hak berada di kurator untuk menjual aset, Gede Hardy berharap pihak kurator dapat menjual aset tersebut dengan harga yang wajar.

“Mudah-mudahan apa yang saya mohon apa yang saya minta itu bisa terpenuhi. Kalau 40 persen di kalikan 4 triliun katakanlah berarti hanya 2,4 triliun. Utang 2,3 triliun bisa-bisa impas saya tidak dapat susuk apa-apa,” ungkapnya.

Seperti diberitakan Tribun sebelumnya terdapat dua krediturnya yang mendaftarkan pihaknya pailit pada 14 Agustus 2017.

Bahkan isu awalnya akan dipailitkan telah terjadi sejak awal tahun 2017 ini.

“Ada bank yang akan mempailitkan kami, sehingga kami berjaga-jaga dan ternyata tanggal 14 Agustus ada yang mendaftarkan kami untuk mempailitkan,” jelasnya.

Berdasarkan Undang-undang kepailitan dan PKPU Nomor 37 tahun 2004, Hardi membela diri dengan mendaftar Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada tanggal 18 Agustus 2017.

“Kemudian tanggal 25 September 2017, langsung turun putusan PKPU ini. Dari tanggal 25 September ini, saya diberikan waktu 45 hari untuk menyusun proposal perdamaian. Nah sampai 9 November 2017, dan seluruh kreditur voting. Kemudian pada saat voting itu, ada kreditur yang tidak menyetujui proposal perdamaian kami, dari kreditur 2 bank yang sangat keras menolak dan akhirnya proposal perdamaian kami ditolak dan kami jatuh pailit,” katanya.

Ada faktor eksternal dan faktor internal, yang menyebabkan Grup Hardys Holding pailit.

Faktor eksternalnya adalah daya beli masyarakat sedang turun, berdasarkan survei Nielsen Indonesia, penurunan daya beli khususnya di ritel sudah melebihi 20 persen pada 2017 ini.

Sementara faktor internalnya pihak hardys terlalu ekspansif mengembangkan outlet karena bermimpi mengejar planning IPO Hardys Retail pada tahun 2020.

Sumber : tribunnews.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: