Menjinakkan rupiah

Mata rupiah tengah menghadapi guncangan baru. Dalam sepekan terakhir mata uang garuda terus melemah terhadap mata uang dollar Amerika Serikat. Dalam catatan kurs tengah Bank Indonesia, pada perdagangan Selasa (24/4) harga dollar mencapai Rp 13.900, melemah hampir tiga persen dibandingkan awal 2018.

Tekanan terhadap rupiah memang tidak sendiri. Mata uang kawasan seperti Rupee India, Yen Jepang, Peso Filipina, Won Korea Selatan hingga Ringgit Malaysia pun ikut merasakan dampak penguatan mata uang dollar Amerika Serikat.

Pasar keuangan dunia memang tengah berspekulasi Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (FED) akan segera mengerek suku bunga acuan mereka agar bisa mengendalikan inflasi di kisaran 2%. Saat ini suku bunga The Fed ada di kisaran 1,5% dan 1,75%.

Hal inilah yang membuat pemilik duit global berbondong-bondong masuk instrumen keuangan berbasis dollar AS lantaran dianggap lebih aman dan menguntungkan. Apalagi imbal hasil surat utang Amerika Serikat berjangka waktu 10 tahun juga tengah naik daun, mendekati 3%.

Di sisi lain, saat ini perang dagang AS dengan China tengah memanas. Kondisi ini masih ditambah ketegangan antara AS dan Rusia di Suriah yang terus meningkat, yang turut mengerek harga minyak mentah.

Memang, bukan cuma gejolak dari luar yang membuat rupiah rontok. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengakui ada permintaan valas dalam jumlah besar dari korporasi dalam beberapa pekan terakhir ini. Sebagian korporasi butuh valas untuk membayar utang luar negeri mereka.

Selain itu ada juga faktor musiman menyetorkan dividen kepada pemegang saham mereka di luar negeri. Hanya saja tak terang berapa besar aliran duit untuk bayar utang luar negeri berikut bunga maupun setoran dividen tersebut.

Indonesia tak bisa melarang arus dana seperti ini. Karena kita masih menganut sistem devisa bebas. Yang bisa dilakukan cuma menawarkan insentif bagi mereka yang menginvestasikan lagi keuntungan mereka di Indonesia.

Lalu, berapa kuat dan lama tekanan terhadap rupiah? Tak ada yang bisa memprediksi, BI pun hanya bilang sudah intervensi dalam jumlah besar di pasar valuta asing maupun obligasi dalam negeri.

Kapan pemerintah harus ikut turun tangan mengintervensi pasar dengan menginstruksikan BUMN untuk melepas valas dan menadah surat utang negara?

Sumber: Harian Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Ekonomi

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: